Ready to Tokyo!!
Akhirnya
hari-H sudah tiba!! Yeayyy.. Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Hari ini rencananya kami sekeluarga
akan berangkat ke JEPANG!! Ya, setelah hampir
setahun penuh menjalani riset tentang itinerary
liburan ke jepang, kami siap berangkat. RISET?? Ya, kamu ga salah dengar koq
karena literally sebelum berangkat
saya dan istri benar2 mempelajari segala sesuatu tentang liburan di jepang,
baik itu apa-apa yang perlu dipersiapkan & dibawa jika berlibur di musim dingin, info tentang itinerary, cara menuju tempat wisata, berapa tiket yang harus dibayar, aplikasi yang wajib di-unduh bagi traveller, sampai sistem transportasi yang ada
di jepang. Pokoknya lengkap deh..
Sampai Soetta, foto2 dl
Pesawat
AirAsia yang akan kami tumpangi rencananya akan take-off jam 08.30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng dan
terbang selama kira-kira 3 jam lalu transit selama 2 jam lebih di Bandara
KLIA2 Kuala Lumpur sebelum terbang lagi selama 8 (delapan) jam dan sampai ke
Bandara Haneda Tokyo. Capek yah bayanginnya? Iya, apalagi klo ngejalanin
langsung. Tapi klo inget bahwasanya kita akan liburan di jepang, semua rasa
capek itu bakal ludes ga berbekas.. hehe.
Yang mana pesawatnya dek?
Setiap
jalan-jalan pasti kita ngarepin bisa liburan dengan lancar dan tenang yah? Tapi
namanya juga kita jalan-jalan sama dua anak yang lagi aktif-aktifnya, pastinya
banyak drama yang terjadi di perjalanan ini. Nah, di hari pertama perjalanan
ini pun sudah ada drama menarik terjadi. Sebenarnya dari awal bangun pagi-pagi
buta sampai take-off ke KLIA2 semua berjalan lancar sesuai dengan rencana.
Dah ga sabar mau naik pesawat
Drama
pertama dimulai karena kesalahan kami untuk tidak memasukkan stroller yang kami
bawa ke dalam checked baggage. Kami
pikir stroller itu bisa dititipkan sama pramugari AirAsia dan masuk ke dalam
cabin pesawat serta bisa diambil kembali langsung saat landing di KLIA2. Ternyata
stroller tadi ga bisa masuk ke dalam cabin, dan sama pramugari dimasukkan ke
dalam bagasi non FLY-THRU. Artinya kami harus melewati proses imigrasi di
bandara KLIA2 Kuala Lumpur supaya bisa mengambil stroller tadi.. Hiks, kebayang
donk dengan waktu transit yang cuma tiga jam, kita harus mengikuti proses di
imigrasi Kuala Lumpur yang antriannya sudah mengular.
Siap take-off!! Sempet2nya makan dulu..
Pelajaran
yang dapat diambil dari drama pertama ini yaitu, klo kita going abroad dengan membawa stroller atau sejenisnya dan harus
transit dengan waktu yang mepet, mending dimasukkan ke dalam checked baggage
aja. Jadi kita ga dipusingkan dengan antrian imigrasi untuk mengambil stroller
tersebut. Tapi karena kejadian itu juga, kami bisa menambah cap imigrasi
Malaysia ke dalam paspor kami. Yeayy!! Haha.
Arrived at KLIA2
Drama
ke-dua yang kami hadapi di hari pertama ini adalah karena adanya perbedaan
waktu antara Jakarta dengan Kuala Lumpur. Ternyata antara Jakarta dengan Kuala
Lumpur terdapat perbedaan waktu 1 jam, dimana jika saat ini di Jakarta pukul
11.00, maka di Kuala Lumpur sudah menunjukkan pukul 12.00. Ya, walaupun secara
geografis, posisi Jakarta lebih ke timur daripada Kuala Lumpur pada
kenyataannya, di sana menerapkan waktu yang lebih cepat 1 jam dibanding
Jakarta.
Cuss boarding to Haneda from KLIA2
Trus,
dramanya dimana?? Oke, tenang-tenang.. Saya mulai jelasin deh.. Sebenarnya
drama kali ini masih ada hubungannya sama drama stroller sebelumnya, dimana
karena kami masih panik karena harus mengurus imigrasi di Kuala Lumpur ditambah
lagi semakin kaget setelah melihat jam dinding bandara KLIA2 sudah menunjukkan
waktu pukul 12.30. Setelah saya cek lagi boarding pass yang diberikan petugas
AirAsia di Bandara Soekarno Hatta, waktu boarding adalah pukul 13.30. Padahal
terakhir saya cek boarding pass yang saya print sendiri dari web check-in,
pesawat dari Kuala Lumpur Ke Tokyo akan boarding Pukul 14.30. Panik lah kami
semua, karena kami masih harus menjalani proses imigrasi yang antriannya
mengular, makan siang, dan sholat dulu sebelum boarding kembali menuju Tokyo
dan semua itu harus bisa dilakukan dalam waktu satu jam saja.. Belum lagi,
jarak antara gate kedatangan dengan tempat imigrasi sampai ke gate
keberangkatan di KLIA2 itu ternyata sangatlah jauh. Huhuhu..
Ngaso abis lari2an. Sambil makan siang dulu..
Jadi
lah kami lari-larian setelah selesai proses imigrasi menuju conveyor bagasi
untuk mencari stroller kami. Setelah stroller ketemu, langsung sholat dulu di
musholla dekat tempat pengambilan bagasi, dan selesai sholat langsung lari lagi
mencari gate keberangkatan sesuai yang tertera pada boarding pass. Setelah
sampai, ternyata ada perubahan tempat gate keberangkatan, jadi kami harus balik
lagi ke gate yang seharusnya. Jauh boookkkkk.. Dengan nafas tersengal-sengal
kami lalu bertanya kepada petugas di gate itu. Ternyata waktu boarding masih
satu jam lg.. Fiuhhh…
Sampai Bandara Haneda malam-malam tapi masih ramai
Pelajaran
yang dapat diambil juga dari drama ke-dua ini yaitu, pelajari dulu perbedaan
waktu Negara yang akan kita tuju biar ga kejadian panik seperti saya. Lalu baca
baik-baik waktu boarding yang tertera pada boarding pass, karena ternyata
setelah saya baca lagi dengan seksama, waktu boarding pukul 13.30 yang tertera
pada boarding pass dari petugas di bandara Soekarno-Hatta adalah waktu
berdasarkan WIB, sedangkan waktu boarding pukul 14.40 yang tertera pada
boarding pass hasil web check-in adalah waktu boarding di bandara setempat
(dalam hal ini bandara KLIA2).
Nunggu Bagasi di Haneda Airport
Drama
terakhir yang kami alami di hari pertama ini adalah ketika kami telah sampai di
Tokyo. Kami mendarat di Bandara Haneda Tokyo pada pukul 23.30 waktu setempat.
Malam-malam gitu pastinya dingin banget kan yah? Apalagi Jepang di bulan Maret
masih termasuk musim dingin walaupun katanya udah mulai hangat. Setelah turun
dari pesawat dan masuk gate kedatangan, sambil menunggu stroller si kecil yang
katanya bisa langsung diambil di gate kedatangan, mulai lah kami bongkar tas
bagasi cabin yang berisi winter outfit kami dan langsung dipakai.
Sesaat sebelum balik ke lift untuk pakai Winter Outfit lengkap
Karena
merasa ga terlalu dingin, dengan PEDE-nya kami cuma memakai jaket dan kupluk
saja tanpa memakai sweater, sarung tangan dan syal. Lanjut proses imigrasi dan
ambil bagasi, kami pun langsung turun ke bawah menggunakan lift menuju halte free shuttle bus yang akan membawa kami
bermalam di Hotel MyStays Haneda. Begitu kami keluar dari lift, hawa dingin
angin malam musim dingin Jepang pun menyeruak hingga menyusuk kalbu dan relung
hati yang paling dalam.. Ok, ungkapan tadi lebay.. Tapi memang suhu udara di
Tokyo lagi dingin-dinginnya, karena ketika kami sudah sampai di Hotel MyStays
Haneda dan mengecek suhu udara di Handphone ternyata menunjukkan suhu 3° C!
Tanpa menunggu waktu lama, kami langsung balik badan kembali naik lift untuk
memakai sweater, sarung tangan dan syal.
Full-set Winter Outfit
Pelajaran
yang dapat diambil dari drama terakhir kami ini yaitu, jangan meremehkan suhu
udara di Negara musim dingin. Apalagi untuk kita-kita yang berasal dari negeri
tropis. Perbedaan temperatur di Jepang yang rata-rata masih di bawah 10° C di
bulan Maret membuat kita harus selalu memakai winter outfit dengan lengkap jika tidak terbiasa dengan dinginnya
udara. Jika tidak, siap-siap aja kena masuk angin. Hehe..
Late Check-in di Hotel MyStays Haneda. Masih pada seger..
Demikian
drama-drama yang terjadi di hari pertama sampai di Negeri Sakura. Setelah free shuttle bus kami sampai di Hotel
MyStays Haneda, kami langsung check-in
dan siap2 istirahat. Tapi mengingat persediaan minum sudah habis dan sebelum
sampai di hotel kami melihat ada minimarket yang masih buka, kembali kami
mengenakan winter outfit lengkap dan
belanja cantik dulu di Family Mart yang letaknya berdekatan dengan hotel tempat
kami menginap.
Late night shop at Family Mart Haneda
Oiya, di malam itu kita juga bertemu dengan pemilik Family Mart Haneda yang dengan sangat baik hatinya memberikan kami free gift berupa cokelat berbentuk boneka panda imut. Mungkin karena melihat dua bocah imut yang ikutan belanja juga kali yah? hihi..
Cokelat panda yang imut banget















No comments:
Post a Comment